Minggu, 11 Desember 2016

IDENTITAS TRI HITA KARANA DALAM KUMPULAN SAJAK SEMERDU RINDU KARYA SUARTA BAGIADA : SEBUAH ANALISIS WACANA KRITIS MODEL TEUN A. VAN DIJK 0LEH I PUTU SUGIH ARTA,SE.,MM.(PENELITIAN MANDIRI,2016)

ABSTRAKSI

     Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Kedalaman konsep Tri Hita Karana dalam karya sastra Puisi. 2) Ideologi,kekuasaan, historis,konteks dan tindakan penyair mengenai implementasi konsep Tri Hita Karana 3) unsur struktur wacana  membangun puisi dalam menganggambarkan identitas yang digunakan penyair dalam kumpulan Puisi Semerdu Rindu Karya Suarta Bagiada.
    Subjek penelitian ini adalah kumpulan puisi Semerdu Rindu karya Suarta Bagiada. Penelitian difokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan masalah seputar identitas konsep Tri Hita Karana beserta relasi pembentukannya yang dipahami dan dikaji berdasarkan perspektif wacana kritis atas sastra menggunakan model Teun A. Van Dijk. Data  diperoleh dengan teknik pengumpulan data, yakni teknik baca, teknik catat, teknik riset kepustakaan. Data dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif yang meliputi perbandingan data, penyusunan data, pemaknaan, penyajian data, dan infrensi. Keabsahan diperoleh melalui validitas referensial, serta expert judgement untuk memperkuat hasil dan pemahaman mengenai fokus masalah.
     Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut. Pertama, Tri Hita Karana dipahami masyarakat cukup baik dari perspektif teologi, dengan pelestarian  yang diungkapkan oleh penyair. Kedua, penyair menggunakan  pemahaman terhadap fenomena hubungan yang terjadi antara manusia dan Tuhan, sesama manusia dan lingkingan terjadi dengan alami, Ketiga, unsur-unsur struktur wacana yang dipilih penyair untuk mengambarkan  tematik, skematik, semantik, sintaksis, stilistik dan retoris dalam diksi, bahasa kias, citraan, dan sarana retorika. Adapun unsur pembangun puisi yang banyak dimanfaatkan penyair melalui pencitraan seperti kerapkali dilakukan penyair beraliran transparan. Selain itu, sebagai bentuk puisi retorika yang menggiring pembaca pada realitas adalah pilihan diksi dan bahasa kias yang dieksekusi penyair. 

Kata Kunci : Identitas, Tri Hita Karana, Puisi 



Jumat, 09 Desember 2016

Peningkatan Pelaksanaan Upacara Tumpek Wariga Dalam Keluarga Hindu Untuk Menumbuhkembangkan Kewirausahaan Dan Kelestarian Lingkungan Oleh I Putu Sugih Arta, SE.,MM (PENELITIAN INDIVIDU 2013)

Abstraksi 

    Tumpek Wariga dilaksanakan pada hari Sabtu Keliwin Wuku Wariga,  pemujaan dilakukan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Sangkara, karena Beliaulah yang menghidupkan segala jenis tumbuh-tumbuhan seperti berbagai jenis kayu-kayuan upakaranya terdiri dari :peras, tulung, sesayut, bubur tepung dan tumpeng agung memakai daging guling dilengkapi dengan jajan dan buah-buahan.

   Pemahaman umat Hindu di Kota Mataram terhadap Tumpek Wariga masih sangat minim, hal ini terbukti dengan anggapan masyarakat tentang pelaksanaan upacara tumpek wariga hanya sebatas kewajiban yang harus dijalankan sebagai umat HIndu yang merupakan warisan budaya turun temurun sedangkan makna yang terkandung dalam ritual tersebut sama sekali tidak dipahami.

  Penelitian ini menggunakan pendekatan empiris dengan analisis data kualitatif, sedangkan penentuan sampel peneliti mempergunakan cara purposive sampling, informan yang dijadikan subyek penelitian diambil denngan menggunakan teknik Snowball Sampling, artinya mencari informan berdasarkan informan kunci (Narbuko dan Ahmadi,2001). Teknik pengumpulan data penelitian ini melalui proses pengamatan (observasi),wawancara dan dokumentasi dan kemudian dianalissa menggunakan teknik kualitatif deskriptif yang melalui jalur reduksi data, penyajian data dan terakhir verifikasi/menarik kesimpulan.

.
Kata Kunci : Upacara Tumpek Wariga,Keluarga Hindu, Kewirausahaan, Lingkungan